Kasus narkotika yang kembali menyeret nama artis senior Donna Harun tak hanya berdampak pada ranah hukum dan keluarga. Bisnis perawatan kulit lokal "Our In One" yang dirintis oleh putra sulungnya, Ricky Harun, dilaporkan ikut terkena imbas, mulai dari penurunan penjualan hingga hilangnya sejumlah kerja sama promosi.
Ricky Harun yang selama ini dikenal menjaga citra bersih dan jauh dari kontroversi, disebut-sebut harus menghadapi kenyataan pahit setelah publik kembali menyoroti kasus hukum sang ibu. Penjualan Our In One, produk skincare yang dikelolanya dikabarkan mengalami penurunan, seiring munculnya sentimen negatif di media sosial.
Seorang sumber dari internal tim pemasaran Our In One menyebutkan bahwa sejak nama Donna Harun kembali ramai diperbincangkan, traffic pembelian menurun drastis, terutama dari platform online.
"Komentar netizen banyak yang nyeret-nyeret nama keluarga. Ada yang bilang ogah beli karena nggak nyaman dengan isu yang lagi rame," ujar sumber tersebut.
Tak hanya penjualan, beberapa kerja sama promosi juga dikabarkan ditunda, bahkan ada yang memilih mundur secara sepihak. Brand disebut lebih berhati-hati menjaga reputasi di tengah sensitifnya isu narkoba yang kembali mencuat.
Di sisi lain, Donna Harun sendiri disebut kehilangan sejumlah endorsement, khususnya dari platform TikTok dan Instagram. Sejumlah kontrak kerja sama yang sebelumnya berjalan dikabarkan tidak diperpanjang, sementara beberapa rencana kampanye promosi disebut batal dilanjutkan.
Sumber dari kalangan influencer menyebut, nama Donna kini masuk dalam kategori high risk talent, sehingga banyak brand memilih menarik diri demi menghindari risiko citra.
"Bukan cuma soal hukum, tapi persepsi publik. Brand sekarang sangat sensitif, apalagi isu narkoba," ujar seorang manajer talent digital.
Padahal sebelum tersandung kasus hukum, Donna Harun dikenal cukup aktif di media sosial dan kerap menerima kerja sama endorse, terutama untuk produk kecantikan, kesehatan, dan gaya hidup. Namun kini, aktivitas tersebut nyaris terhenti.
Ricky Harun sendiri memilih bersikap diam. Dalam beberapa kesempatan, ia hanya meminta doa agar keluarganya diberi kekuatan. Ia juga disebut tengah berupaya memisahkan urusan bisnis dari persoalan pribadi keluarga, meski kenyataannya sentimen publik sulit dibendung.
Pengamat industri hiburan menilai, kasus ini menunjukkan bagaimana kontroversi figur publik dapat berdampak berlapis, tidak hanya pada individu yang bersangkutan, tetapi juga pada keluarga dan usaha yang terkait secara tidak langsung.
"Di era media sosial, citra keluarga bisa ikut terbawa. Konsumen makin kritis dan emosional dalam mengambil keputusan," ujar seorang analis branding.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Ricky Harun terkait kondisi bisnis skincarenya maupun dari manajemen Donna Harun soal hilangnya kontrak endorsement. Namun satu hal jelas, kasus narkoba yang kembali mencuat telah meninggalkan efek domino, dari jeruji besi hingga etalase bisnis dan panggung media sosial.
Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa dunia hiburan dan bisnis sangat bergantung pada kepercayaan publik, dan sekali citra runtuh, dampaknya bisa meluas jauh melampaui persoalan hukum itu sendiri.
Donna Harun ditangkap oleh Satresnarkoba Polresta Denpasar pada 9 Februari 2025 di sebuah hotel di kawasan Denpasar, Bali. Polisi saat itu mengamankan barang bukti berupa sabu, ekstasi, kokain, dan pil happy five yang disimpan dalam koper miliknya.
Pengadilan Negeri Denpasar awalnya menjatuhkan vonis 1 tahun penjara, namun Pengadilan Tinggi Bali memperberat hukuman menjadi 4 tahun penjara pada 31 Juli 2025, dengan pertimbangan bahwa Donna merupakan residivis kasus narkotika.
Pada tahap kasasi, Mahkamah Agung menilai Donna tidak layak mendapatkan keringanan hukuman, terlebih setelah ia diketahui sempat melarikan diri dari Lapas Kerobokan, Badung, Bali pada April 2025. Donna kemudian ditangkap kembali di Bandara Internasional Dubai, dideportasi ke Indonesia, dan dipindahkan ke Lapas Wanita Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.




